Cara Hitung Profit Bersih Shopee Setelah Semua Potongan
Angka penjualan di dashboard Shopee adalah uang yang masuk, bukan uang yang tinggal. Di antara keduanya ada tujuh potongan yang jarang dihitung sekaligus, dan selisihnya sering jauh lebih besar daripada dugaan. Artikel ini menghitungnya sampai selesai, per produk, bukan per toko.
Tiga angka yang sering tertukar
| Istilah | Isinya | Yang dijawab |
|---|---|---|
| Omzet | Harga jual dikali unit terjual | Seberapa ramai toko |
| Laba kotor | Omzet dikurangi HPP | Apakah harga beli masuk akal |
| Laba bersih | Laba kotor dikurangi seluruh potongan lain | Berapa yang benar-benar tinggal |
Yang masuk ke kantong Anda hanya baris ketiga. Dua baris pertama berguna untuk diagnosis, tetapi tidak pernah menjadi uang.
Rumusnya, lengkap dengan seluruh potongan
Laba bersih per unit = Harga jual − HPP − Fee marketplace − Subsidi ongkir − Biaya kemasan − Alokasi iklan − Alokasi biaya tetap
Tujuh komponen, dan lima terakhir yang paling sering terlewat. Perhatikan dua kata "alokasi": biaya iklan dan biaya tetap tidak menempel ke satu unit secara alami, jadi harus dibagikan. Cara membaginya dibahas di bawah.
Contoh berangka dengan asumsi terbuka
Angka berikut adalah asumsi, bukan tarif resmi. Ganti dengan angka toko Anda sendiri, dan cek tarif potongan yang berlaku di halaman fee Shopee.
- Harga jual Rp120.000
- HPP termasuk ongkir masuk dari pemasok Rp45.000
- Fee marketplace, asumsi 6 persen dari harga jual, Rp7.200
- Subsidi ongkir yang ditanggung penjual Rp5.000
- Kemasan, yaitu kardus, bubble wrap, label, Rp3.500
- Alokasi iklan Rp10.000, dari belanja iklan Rp500.000 dibagi 50 unit
- Alokasi biaya tetap Rp1.500
Total potongan Rp72.200, sehingga laba bersih per unit Rp47.800, atau margin 39,8 persen. Bandingkan dengan laba kotornya yang Rp75.000. Selisih Rp27.200 itulah yang hilang kalau perhitungan berhenti di HPP saja.
Kenapa harus per SKU, bukan per toko
Margin rata-rata toko menyembunyikan produk yang rugi. Tiga produk dengan rumus yang sama, asumsi terbuka:
| Komponen | Produk A | Produk B | Produk C |
|---|---|---|---|
| Harga jual | Rp150.000 | Rp80.000 | Rp60.000 |
| HPP | Rp70.000 | Rp55.000 | Rp40.000 |
| Fee marketplace | Rp9.000 | Rp4.800 | Rp3.600 |
| Alokasi iklan | Rp10.000 | Rp12.000 | Rp15.000 |
| Subsidi ongkir | Rp5.000 | Rp5.000 | Rp5.000 |
| Laba bersih | Rp56.000 (37%) | Rp3.200 (4%) | Minus Rp3.600 |
Produk C laku dan tetap rugi. Penyebabnya terlihat di satu baris: alokasi iklannya Rp15.000 pada harga jual Rp60.000, yaitu 25 persen dari harga, sementara produk A hanya 6,7 persen. Semakin murah produknya, semakin berat beban iklan yang sama.
Kalau ketiganya dirata-rata di level toko, hasilnya tetap terlihat untung, dan produk C akan terus didanai produk A tanpa ada yang menyadarinya.
Membagi biaya iklan ke masing-masing produk
Ini bagian tersulit, karena satu kampanye sering mencakup banyak produk sekaligus. Tiga cara, diurutkan dari yang paling akurat:
- Ambil langsung dari laporan iklan per produk. Kalau kampanye diatur per produk, biayanya sudah terpisah dan tidak perlu diperkirakan sama sekali.
- Bagi menurut unit terjual. Untuk kampanye gabungan, bagi total belanja dengan jumlah unit terjual dari produk yang diiklankan pada periode yang sama.
- Bagi menurut porsi omzet. Dipakai kalau harga antarproduk timpang jauh, supaya produk mahal tidak menanggung beban yang terlalu ringan.
Perbarui alokasi ini tiap bulan. Rasio belanja iklan terhadap unit terjual bergerak cepat, dan alokasi bulan lalu bisa keliru jauh untuk bulan ini.
Empat potongan yang paling sering hilang dari hitungan
- Retur. Setiap retur menghapus margin unit itu sekaligus menambah ongkos kirim dua arah. Pada tingkat retur 3 persen dengan kerugian Rp15.000 per kejadian, tiap 100 penjualan hilang Rp45.000.
- Kemasan. Terasa kecil per unit, tetapi berulang di setiap pesanan tanpa kecuali.
- Subsidi ongkir. Sering dianggap program gratis, padahal sebagian ditanggung penjual.
- Biaya tetap. Sewa, gaji, langganan aplikasi. Ini yang membedakan margin kontribusi dari laba bersih yang sesungguhnya.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah biaya kemasan masuk HPP atau dihitung terpisah?
Keduanya benar asal konsisten. Yang penting biaya itu muncul satu kali, tidak hilang dan tidak dihitung dua kali.
Bagaimana kalau satu produk dijual di beberapa harga karena promo?
Hitung laba bersih terpisah untuk tiap tingkat harga, lalu ambil rata-rata tertimbang menurut unit terjual di masing-masing harga.
Seberapa sering perlu dihitung ulang?
Sebulan sekali cukup untuk sebagian besar toko, tetapi produk dengan belanja iklan besar sebaiknya diperiksa mingguan supaya kerugian tidak menumpuk sebulan penuh.
Yang bisa dikerjakan minggu ini
- Hitung laba bersih untuk lima produk dengan omzet terbesar.
- Urutkan menurut laba total, bukan menurut jumlah terjual.
- Hentikan iklan pada produk yang hasilnya negatif, lalu pindahkan anggarannya ke produk teratas.
- Ukur lagi setelah satu siklus penuh.
Untuk memecah seluruh komponen biaya sampai laba bersih per produk, gunakan kalkulator profit per SKU. Ambang efisiensi iklan tiap produk dihitung di kalkulator break-even ROAS, dan kalau marginnya perlu diperbaiki lewat harga, mulai dari kalkulator harga jual aman. Diagnosis lanjutan untuk produk yang laris tetapi tidak menguntungkan ada di kenapa toko Shopee ramai tapi tidak untung, dan cara memutuskan produk mana yang dihentikan dibahas di produk mana yang harus di-pause atau stop. Rincian tarif potongan resmi ada di pusat edukasi penjual Shopee.